Jauh di daratan es Antartika Timur, tepatnya di kawasan formasi batuan Akebono Rock, sebuah fenomena geologi yang langka berhasil terungkap dan memberikan pandangan baru tentang sejarah pergerakan kerak bumi purba. Di lokasi batuan sesar tersebut, ditemukan batuan amfibolit yang mengandung kristal garnet berukuran besar dengan struktur internal melengkung menyerupai huruf “S” atau sigmoidal. Penemuan kristal dengan pola melengkung ini merupakan laporan terperinci pertama mengenai fenomena kristal yang berputar (rotated phenocrysts) di seluruh kawasan Kompleks Lützow-Holm (LHC) Antartika. Pola unik pada garnet ini bertindak layaknya perekam kondisi alam masa lalu; bagian inti kristal merekam jejak pertumbuhan berbentuk huruf “S”, sementara bagian luarnya merekam jejak berbentuk huruf “Z”. Bentuk melengkung ganda ini menunjukkan bahwa batuan tersebut tidak hanya tumbuh, melainkan juga berputar secara bersamaan akibat gesekan dan tekanan lempeng tektonik yang luar biasa kuat pada masa pembentukannya.
Gambar: Peta geologi kawasan Kompleks Lützow-Holm di pesisir Antartika Timur.
Melalui pembacaan komposisi kimia untuk mengukur suhu dan tekanan purba, terungkap kisah perjalanan luar biasa dari batuan kristal ini. Batuan yang menyimpan garnet sigmoidal ini awalnya terbentuk sangat jauh di kedalaman kerak bumi pada kondisi tekanan ekstrem sekitar 8 kilobar dan suhu menyentuh 650–700 derajat Celcius. Akibat adanya aktivitas patahan tektonik atau zona sesar yang intens, bongkahan batuan dari kedalaman ini kemudian terdorong dan terangkat naik secara vertikal menuju tingkat kerak bumi yang lebih dangkal. Proses pengangkatan yang dibarengi dengan penurunan tekanan yang sangat cepat inilah yang mengubah arah putaran gesekan, sehingga memicu pembentukan jejak huruf “Z” pada tepi luar kristal garnet tersebut.
Gambar: Penampakan mikroskopis (fotomikrograf) dari kristal garnet sigmoidal yang ditemukan di Akebono Rock.
Bagi masyarakat luas dan dunia ilmu pengetahuan, rekam jejak pengangkatan vertikal kerak bumi ini membantu memecahkan salah satu teka-teki besar terkait asal-usul daratan di kawasan tersebut, khususnya mengenai keberadaan blok batuan purba misterius di Tanjung Hinode yang letaknya tak jauh dari sana. Selama puluhan tahun, para ahli menduga bahwa batuan anomali di Tanjung Hinode merupakan blok daratan asing yang berpindah sangat jauh secara horizontal melintasi samudra purba akibat pergeseran benua. Namun, bukti jalur sesar pengangkatan vertikal di Akebono Rock ini memberikan perspektif baru yang lebih masuk akal: batuan-batuan purba bermutu tinggi di kawasan tersebut kemungkinan besar tidak pernah berpindah sejauh itu, melainkan langsung terdorong naik dari bagian kerak bumi yang paling dalam ke permukaan akibat pergerakan patahan tektonik lokal.
SUMBER ARTIKEL:
- Judul: Tectono-metamorphic evolution and significance of shear-zone lithologies in Akebono Rock, Lützow-Holm Complex, East Antarctica.
- Jurnal: Antarctic Science 33(1), 52–72 (2021)
- Penulis: Sotaro Baba, Tomokazu Hokada, Atsushi Kamei, Ippei Kitano, Yoichi Motoyoshi, Prayath Nantasin, Nugroho Imam Setiawan, dan Davaa-Ochir Dashbaatar.
- Afiliasi University of the Ryukyus (Jepang), National Institute of Polar Research (Jepang), SOKENDAI (Jepang), Shimane University (Jepang), Kyushu University (Jepang), Kasetsart University (Thailand), Universitas Gadjah Mada (Indonesia), dan Mongolian University of Science and Technology (Mongolia).
- DOI: https://doi.org/10.1017/S0954102020000450