Ezra Timothy Nugroho, seorang peneliti muda sekaligus alumnus Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan kelulusan 2023, baru saja merampungkan ekspedisi ilmiah bersejarah di kawasan Antartika Timur. Mewakili Institute for Marine and Antarctic Studies (IMAS), Universitas Tasmania, Ezra bergabung bersama 22 ilmuwan multinasional dalam pelayaran Cook Ice Ecosystems and Sediments (COOKIES) 2026.
Kecintaan Ezra pada penelitian genetik berawal dari skripsinya saat menempuh pendidikan sarjana di UGM, di mana ia menggunakan metode environmental DNA (eDNA) pada sampel air Sungai Code, Yogyakarta, untuk mendeteksi keberadaan spesies ikan. Ketertarikannya ini membawanya menempuh studi Master di IMAS, dengan fokus penelitian pada DNA kuno sedimen (sedaDNA) dari perairan Antartika. Kerja kerasnya mempertemukan Ezra dengan pembimbingnya, Dr. Linda Armbrecht, yang kemudian mengajaknya bergabung dalam pelayaran Antartika ini untuk mengumpulkan sampel langsung guna keperluan riset doktoral (PhD) Ezra kelak.
Pelayaran yang menggunakan kapal riset (RV) Investigator milik lembaga sains Australia (CSIRO) ini memfokuskan studinya pada kawasan laut Gletser Cook di George V Land. Wilayah ini dianggap sebagai salah satu area paling rentan secara iklim di Antartika karena Rak Es Cook mengalirkan sebagian besar es dari Cekungan Subglasial Wilkes. Menurut studi pemodelan terkini, kawasan ini berisiko kehilangan sekitar 14 gigaton es per tahun selama dua abad mendatang, menjadikannya kontributor potensial tunggal terbesar terhadap kenaikan rata-rata permukaan laut global di masa depan.
Berangkat dari Hobart, Tasmania pada 2 Januari 2026, tim ilmuwan menempuh perjalanan 55 hari sejauh 6.534 mil laut. Ekspedisi ini didorong oleh tiga tujuan ilmiah utama: merekonstruksi pergeseran ekosistem laut selama satu juta tahun terakhir, menyelidiki kaitan keanekaragaman hayati dan pola genetik dasar laut dengan pergerakan lapisan es, serta memahami faktor-faktor penentu distribusi kehidupan laut di benua terpencil.
Tugas utama Ezra dalam ekspedisi ini adalah melakukan pengambilan sampel sedimen untuk analisis DNA kuno (aDNA). Melalui operasi yang tak kenal lelah, tim berhasil mengambil dan menyampel 14 multicore, 13 Kasten core, dan 5 piston core. Proses ini menuntut kehati-hatian tingkat tinggi dengan protokol anti kontaminasi yang sangat ketat, di mana Ezra dan tim wajib mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, mengingat DNA kuno sangat sensitif serta rentan hancur akibat paparan oksigen, suhu tinggi, radiasi, dan kontaminasi.
Kerja keras tim diganjar dengan pencapaian yang memecahkan rekor: mereka berhasil mengangkat piston core terpanjang dalam sejarah pelayaran RV Investigator, yakni sedimen berukuran 20,5 meter dari kedalaman laut 3.650 meter. Dari identifikasi awal mikrofosil diatom di bagian dasar sampel tersebut, para ilmuwan memperkirakan bahwa sedimen itu menyimpan jejak sejarah bumi dari setidaknya dua juta tahun yang lalu.
Di sela-sela fokus pada ekstraksi DNA, Ezra juga ikut serta dalam operasi ilmiah lain seperti penarikan instrumen Trace Metal Rosette, pengumpulan sampel air botol CTD Niskin, hingga meneliti organisme aneh Antartika yang tersangkut di benthic sled. Ia juga berkesempatan mempresentasikan riset tesisnya pada sesi diskusi sains harian di atas kapal.




RV Investigator kemudian berlabuh kembali di Hobart pada 25 Februari 2026, dengan membawa pulang sampel berharga yang kini tersimpan aman dalam lemari pembeku bersuhu -80 °C di IMAS. Untuk tahap selanjutnya dalam penelitian PhD-nya, Ezra akan berfokus pada analisis sedaDNA spesies moluska dari Samudra Selatan. Ia berencana mengintegrasikan data temuan ini dengan data pelayaran COLLAPS 2022 (Cook Glacier–Ocean System, Sea Level, and Antarctic Past Stability) dari riset tesisnya serta himpunan data DNA modern. Penelitian komprehensif ini diharapkan dapat mempertajam prediksi para ahli mengenai bagaimana organisme laut akan merespons perubahan iklim yang terus terjadi di masa depan.
Dokumentasi: Ezra