Delegasi Indonesia yang terdiri dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan Kunjungan Kajian Strategis ke Argentina dan Chile pada 1–11 November 2025. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat rencana keterlibatan Indonesia dalam tata kelola kawasan Antarktika sekaligus menjajaki peluang peningkatan kapasitas nasional melalui diplomasi ilmiah dan kerja sama riset polar.
Kawasan Antarktika yang dikenal sebagai barometer perubahan iklim global dipandang memiliki arti penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan tropis terbesar di dunia yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Indonesia juga menilai bahwa kapasitas dan pengalaman dalam pengelolaan lingkungan tropis dapat menjadi kontribusi nyata dalam upaya preservasi dan konservasi kawasan Antarktika.
Di Buenos Aires, delegasi Indonesia mengadakan pertemuan dengan Sekretariat Antarctic Treaty System (ATS), United Nations Democracy Fund (UNDEF), Kementerian Luar Negeri Argentina, Dewan Riset Nasional Argentina (CONICET), serta Instituto Antártico Argentino (IAA). Sementara itu, di Santiago dan Punta Arenas, delegasi bertemu dengan Kementerian Luar Negeri Chile melalui Divisi Antarktika, Chilean Antarctic Institute (INACH), Universidad de Chile, Pontificia Universidad Católica de Chile (PUC), serta Universidad de Magallanes (UMAG).
Sebagai salah satu Negara Konsultatif dalam Antarctic Treaty System (ATS), Chile memiliki kebijakan nasional Antarktika berbasis pendekatan ilmiah multidisipliner. Dalam rangkaian pertemuan tersebut, kedua pihak membahas praktik terbaik dalam tata kelola Antarktika serta peluang kolaborasi riset, termasuk rencana UGM untuk mendirikan pusat riset polar (Polar Research Center) dan pengembangan program pertukaran ilmuwan muda.
Salah satu capaian konkret dari kunjungan ini adalah penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara UGM dan Universidad de Chile sebagai langkah awal pembentukan kerja sama akademik dan kelembagaan. Kesepakatan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi kolaborasi riset bersama, penguatan jejaring akademik, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang studi kutub.
Kunjungan ini menjadi tonggak penting (milestone) dalam memperluas peran Indonesia di kawasan kutub, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia untuk berkontribusi pada riset ilmiah, isu perubahan iklim global, dan kerja sama multilateral dalam kerangka Antarctic Treaty System.