Universitas Gadjah Mada Tropical-Polar Interconnection
Research Group
  • Berita
  • Galeri
  • Publikasi
  • ID
    • EN
    • ID
  • Beranda
  • Publikasi
  • Kristal Zirkon Antartika Simpan Rekaman Tabrakan Lempeng Ratusan Juta Tahun Lalu

Kristal Zirkon Antartika Simpan Rekaman Tabrakan Lempeng Ratusan Juta Tahun Lalu

  • Publikasi
  • 30 Maret 2023, 04.04
  • Oleh: admin
  • 0

Selama puluhan tahun, para ahli geologi terus berusaha merekonstruksi teka-teki raksasa tentang bagaimana benua super Gondwana purba bersatu. Kini, kepingan jawaban baru yang mengejutkan justru ditemukan di dalam kristal mikroskopis yang terkubur di batuan pesisir Prince Olav, Antartika Timur.

Tim peneliti internasional berhasil membedah sejarah batuan metamorf tingkat tinggi di Kompleks Lützow-Holm (LHC) dan menemukan bahwa proses pembentukan kerak bumi di wilayah tersebut jauh lebih tua dan lebih panjang dari perkiraan sebelumnya.

Gambar: Peta distribusi singkapan batuan di Kompleks Lützow-Holm, Antartika Timur, tempat para peneliti mengumpulkan sampel batuan dari delapan lokasi berbeda

SOROTAN UTAMA DARI PENEMUAN INI:

  • Penemuan Jejak metamorfisme Purba: Peneliti mendeteksi peristiwa metamorfisme tertua yang terjadi sekitar 990 juta tahun yang lalu di kawasan Niban Rock, serta peristiwa termal lain pada 931,7 juta tahun yang lalu di Akebono Rock.
  • Tiga Fase Pemanasan Beruntun: Kristal zirkon merekam tiga tahapan metamorfisme utama pada era Ediakarium hingga Kambrium, yaitu pada rentang usia lebih dari 600–580 juta tahun lalu, fase kondisi puncak pada 580–550 juta tahun lalu, dan fase pendinginan pada 550–500 juta tahun lalu.
  • Mengubah Pandangan Penyatuan Gondwana: Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa penyatuan awal bagian tengah benua Gondwana sudah dimulai dengan tabrakan lempeng benua sebelum 580 juta tahun yang lalu (sebagai bagian dari Orogenesa Afrika Timur-Antartika).

Untuk bisa “membaca” sejarah masa lalu bumi, tim peneliti menggunakan instrumen canggih Laser Ablation Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (LA-ICP-MS) untuk melakukan penanggalan umur U-Pb pada mineral zirkon. Kristal zirkon dikenal memiliki daya tahan tinggi dan mampu mengunci “garis waktu” (timeline) dari berbagai peristiwa suhu ekstrem secara berulang tanpa hancur.

Tim mengumpulkan sampel dari delapan titik singkapan batuan (seperti Sinnan Rocks, Akebono Rock, Niban Rock, hingga Oku-iwa Rock) di sepanjang pesisir Prince Olav, Antartika Timur. Hasilnya, kristal zirkon tersebut menampilkan tekstur pertumbuhan berlapis-lapis yang merekam sejarah multi-termal yang sangat kompleks. 

Gambar: Singkapan batuan di lapangan

Menurut para peneliti, temuan fase pemanasan yang berlapis-lapis ini membuktikan bahwa wilayah tersebut mengalami proses penyatuan benua yang berkelanjutan. Setelah tumbukan awal yang terjadi sebelum 580 juta tahun lalu, lempeng-lempeng tektonik purba ini terus mengalami tabrakan beruntun yang didorong oleh aktivitas orogenesa (pembentukan pegunungan) Kuunga hingga periode 500 juta tahun yang lalu.

Proyek penelitian ekstensif ini dikomandoi oleh ilmuwan dari Kyushu University, bekerja sama dengan berbagai universitas dan pusat penelitian dari Jepang, Thailand, Indonesia, dan Mongolia. Penemuan ini menjadi lompatan penting bagi dunia geologi dalam merangkai kembali sejarah benua super di masa lalu.

SUMBER ARTIKEL

  • Judul: Zircon geochronology of high–grade metamorphic rocks from outcrops along the Prince Olav Coast, East Antarctica: Implications for multi–thermal events and regional correlations.
  • Jurnal: Journal of Mineralogical and Petrological Sciences, Volume 118, 2023.
  • Penulis: Ippei Kitano, Tomokazu Hokada, Sotaro Baba, Atsushi Kamei, Yoichi Motoyoshi, Prayath Nantasin, Nugroho I. Setiawan, Davaa–ochir Dashbaatar, Tsuyoshi Toyoshima, Masahiro Ishikawa, Takuma Katori, Nobuhiko Nakano, dan Yasuhito Osanai.
  • Afiliasi: : Kyushu University (Jepang), The Hokkaido University Museum (Jepang), National Institute of Polar Research (Jepang), SOKENDAI (Jepang), University of the Ryukyus (Jepang), Shimane University (Jepang), Kasetsart University (Thailand), Universitas Gadjah Mada (Indonesia), Mongolian University of Science and Technology (Mongolia), Niigata University (Jepang), Yokohama National University (Jepang), dan Fossa Magna Museum (Jepang).
  • DOI: https://doi.org/10.2465/jmps.221220. 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Recent Posts

  • Alumnus Biologi UGM Ezra Timothy Nugroho Jelajahi Antartika Bersama Tim Peneliti Internasional dalam Ekspedisi COOKIES 2026
  • UGM dan Kementerian Luar Negeri Gelar Seminar “Indonesia in a Connected Tropical–Polar World” dan Luncurkan Tropical–Polar Interconnection Research Group
  • Ancaman Intrusi Air Laut di Pesisir Semarang Barat, Peneliti Ingatkan Pentingnya Konservasi Air Tanah
  • Indonesia Perkuat Diplomasi Sains dan Kerja Sama Antarktika dengan Argentina dan Chile
  • Diskusi Peluang Indonesia sebagai Observer Dewan Arktik, Dr. Nugroho Imam Setiawan menjadi anggota Delegasi Republik Indonesia

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
Universitas Gadjah Mada

Tropical-Polar Interconnection Research Group

© Tropical-Polar Interconnection Research Group UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY